{FF} With the Wind

*Nama Author : @deladelz
*Judul: With the Wind
*Genre: romance
*Length: Oneshot
*Cast: Dal Shabet Serri, Led Apple Hanbyul
*Disclaimer: FF murni hasil karangan author dan sudah pernah dipublish sebelumnya di blog pribadi author delfinotes.wordpress.com🙂

*N/B : it is a fiction, so don’t take it seriously ’cause i made it just for fun ^_^

 

with-the-wind

Serri menata meja makan dengan sajian sarapan yang sejak setengah jam lalu membuatnya

sibuk. Ia memang bukan chef handal yang bisa menghasilkan makanan ala restoran bintang

lima, tapi ia jamin aroma waffle dengan toping sirup cherry serta dua cangkir americano

latte buatannya cukup untuk membuat sosok tinggi yang kini berkutat dengan Macbook di

pangkuannya itu kelaparan. Setidaknya itu yang Serri pikir sampai lima menit kemudian

tidak ada pergerakan berarti dari orang tersebut selain jari-jari tangannya yang masih setia

menari di antara tuts keyboard.

“Aku masih sangat yakin kalau waffle ini masih jauh lebih baik untuk jadi sarapan dibanding

dengan tombol-tombol itu.”

Dari samping Serri bisa melihat jari-jari itu berhenti mengetik diganti dengan segaris senyum

dari si empunya. Orang tersebut kemudian meletakkan Macbooknya di atas meja kecil di

hadapannya kemudian menghampiri Serri yang kini tampak mengunyah waffle dengan

ekspresi ketus seperti biasa. Seperti biasa? Ya, sepertinya wanita itu memang tidak bisa

menunjukkan wajah ramahnya sesering wajah kesal kepada pria yang sekarang tengah

menyesap americano latte buatan Serri.

“Seperti biasa, americano buatanmu memang yang terbaik Serri-ssi.” Katanya lalu mencomot

sepotong waffle (dengan potongan yang lumayan besar), memasukkan ke mulutnya lalu

mengunyah dengan antusias. Ia kembali meminum americanonya, hampir menghabiskannya,

lalu beranjak dari meja makan untuk memasukkan Macbook ke dalam tas dengan terburu-
buru.

“Semoga harimu menyenangkan Serri-ssi. Aku pergi dulu.”

Serri hanya diam sampai ia mendengar bunyi debam pintu yang menandakan orang itu

sudah keluar dari apartementnya. Ia mengangkat kedua alisnya singkat kemudian kembali

memotong waffle di piringnya.

Beginilah rutinitasnya dua bulan terakhir. Tepatnya sejak sosok tadi, pria itu, Jang Hanbyul,

tiba-tiba merangsek masuk atau menurut istilah Serri mengacak-acak hidupnya (meski

sebenarnya Hanbyul hanya tinggal bersamanya dan tidak berbuat macam-macam). Pria itu

seperti petasan yang meledak dan mengganggu kehidupan Serri yang tadinya adem-ayem

saja.

Kejadian yang bermula saat sang agen apartement, Eric Nam, memberitahunya kalau ada

seorang pengusaha muda yang tertarik dengan apartement Serri. Serri yang memang sudah

nyaman dengan apartementnya yang tergolong mewah itu tentu saja mengabaikannya.

Namun itu tidak berhenti saat Eric terus-terusan mengganggunya dan mulai berkicau tentang

betapa tingginya harga yang ditawarkan oleh si pengusaha muda untuk membeli apartement

Serri, tetapi ia tetap bertahan dengan keputusannya. Sampai suatu hari Eric datang ke

apartementnya dengan wajah paling desperate yang pernah Serri lihat.

“Saya mohon Nona Park, pertimbangkanlah tawaran ini. Saya jamin berapapun harga yang

anda minta pasti akan dipenuhi.”

“Eric-ssi, saya sudah bilang kalau saya tidak berniat untuk menjual apartement ini.”

“Tapi Serri-ssi, sa…”

“Dan kenapa anda sangat ngotot sih? Anda kan cukup bilang pada orang itu kalau saya tidak

mau dan selesai. Bukan begitu?”

Eric terdiam mendengar pertanyaan Serri. Ia melepas kacamata yang bertengger di hidungnya

dan mengusap keringat yang muncul di dahinya. Kebiasaannya saat ia sedang tegang atau

gugup.

“Sebenarnya…..”

Mulailah Eric bercerita pada Serri kenapa ia begitu bersikeras memenuhi permintaan orang

tersebut. Dari cerita Eric, orang tersebut adalah sahabatnya semasa kuliah di California. Bisa

dibilang sangat dekat sampai-sampai setiap Eric mengalami kesusahan orang tersebut pasti

menjadi yang pertama membantunya tidak peduli sesulit apa masalah itu. Menurut Eric, ia

belum pernah sama sekali mendapat kesempatan untuk membalas kebaikan sahabatnya itu

sampai tiba-tiba ia bertanya dan meminta tolong kepada Eric untuk mendapatkan apartement

Serri. Itu adalah pertama kalinya orang itu meminta tolong pada Eric, sehingga Eric dengan

usahanya yang pantang menyerah membujuk Serri agar mau menjual apartement itu.

Serri cukup tersentuh dengan cerita Eric tapi tidak membuatnya berubah pikiran. Yang bisa

ia lakukan hanya memberi kesempatan kepada Eric untuk mengatur pertemuan dengan orang

itu untuk berbicara langsung dengannya. Kesempatan yang tidak disia-siakan oleh Eric yang

langsung mengatur pertemuan itu keesokan harinya.

Sehari kemudian, Serri kembali mendapat kunjungan saat bel apartementnya berbunyi

tepat saat ia akan menikmati sarapannya. Ia memang diberitahu Eric kalau orang itu akan

datang hari ini, tapi Serri tidak menyangka akan sepagi ini. Rasa kesal akan jam makan yang

terganggu tidak membuat wanita itu kehilangan sopan santun untuk tidak membukakan pintu

buat sang tamu.

Dan itulah pertama kalinya ia bertemu dengan Jang Hanbyul.

Serri tidak bisa menampik aura khas dari pria itu saat mereka pertama kali bertemu. Sebuah

lesung di pipi kiri Hanbyul menjadi hiburan tersendiri bagi Serri setiap kali melihat pria

itu tersenyum. Dan entah karena senyum menawan Hanbyul atau tawaran uang dengan

nilai yang sangat menggiurkan-Serri bersikeras pernyataan kedua adalah alasannya-wanita

itu akhirnya bersedia menerima tawaran Hanbyul untuk menyewa salah satu kamar di

apartementnya.

Yang Serri ingat dari percakapan mereka waktu itu, Hanbyul hanya mengatakan kalau ia

menyukai apartement Serri. Alasan yang terlalu absurb menurut wanita berponi itu mengingat

ada ratusan bahkan ribuan apartement di luar sana yang jauh lebih bagus dari miliknya.

Namun jumlah digit won yang ditawarkan Hanbyul sepertinya menutupi berbagai pertanyaan

di benak Serri.

Setelah diskusi hampir dua jam, Serri setuju menyewakan apartementnya dengan syarat ia

tetap tinggal di apartement itu sedangkan Hanbyul hanya memiliki hak penuh pada kamar

tidurnya dan sisa ruangan lain mereka gunakan bersama (kecuali kamar tidur Serri tentunya).

Dan syarat tambahannya ialah mereka harus menghargai privasi satu sama lain.

Aneh? Tidak. Menurut Serri itu lebih dari aneh, tetapi apa masih ada sesuatu yang tidak aneh

di zaman sekarang?

***

“Serri-ah, ini sudah malam, sebaiknya kau pulang.”

Serri yang kelihatan sibuk dengan pensil dan kertas-kertas sketsa di mejanya hanya

menengok sekilas ketika mendengar suara Sooyoung.

“Sudah beberapa hari ini kau lembur terus. Kau bisa sakit.”

Serri akhirnya melepas pensil gambarnya lalu merenggangkan otot lehernya yang kaku. Ia

menatap Sooyoung yang kini sudah lengkap dengan mantel dan tas di pundaknya, siap untuk

pulang.

“Kau pulang duluan saja. Sebentar lagi ini selesai kok. Memangnya kau tidak dijemput

Kyuhyun oppa, huh?”

“Tidak, pokoknya tidak boleh! Kau harus pulang bersamaku. Sekarang! Lagipula Kyuhyun

sedang tidak bisa menjemputku karena ia ada rapat dadakan.”

Sooyoung mendengus pelan, ia lalu duduk di kursi depan meja kerja Serri sambil melipat

kedua tangannya di dada. Serri tidak punya pilihan lain selain mengikuti perintah sahabat

sekaligus rekan kerjanya itu. Ia sendiri memang sangat lelah karena seperti kata Sooyoung

sudah beberapa hari ini ia lembur untuk memenuhi permintaan pelanggan butiknya yang

cukup meningkat. Sesuatu yang menyenangkan tentunya, tapi juga cukup melelahkan.

Serri berniat pulang naik taksi kalau saja sahabatnya ini tidak mengancam akan menelpon

Hanbyul kalau Serri tidak mau naik ke mobilnya. Ya, Sooyoung adalah salah satu orang

yang tahu keberadaan Hanbyul di apartement Serri. Mereka baru sempat bertemu dua kali,

dan Serri heran dengan hanya pertemuan itu keduanya bisa dibilang cukup akrab. Sesuatu

yang lucu mengingat hubungan Serri dan Hanbyul yang masih kaku padahal mereka sudah

berminggu-minggu tinggal satu atap.

“Bagaimana kabar Hanbyul-ssi?” tanya Sooyoung di sela-sela kegiatannya menyetir.

“Hmm, biasa saja. Dia masih menyebalkan.”

“Oh ayolah Serri, Hanbyul itu jauh dari kata ‘menyebalkan’. Dia salah satu orang paling

menyenangkan yang pernah kutemui.”

“Mungkin bagimu, bagiku tidak. Kau tahu, setiap kali aku bertanya padanya paling-paling dia

mengatakan ‘bukan apa-apa’ ‘bukan sesuatu yang penting’ atau bahkan hanya tersenyum.”

“Bukankah itu salah satu kesepakatan kalian? Maksudku tidak saling mengganggu privasi,

jadi wajar kan kalau dia tidak mengatakan apa-apa. Apa kau mulai penasaran dengannya?”

“Bukan begitu. Aku rasa mengetahui pekerjaannya saja bukan hal yang berlebihan kan? Bisa

saja selama ini aku tinggal dengan seorang buronan, atau bahkan teroris.” Serri bergidik

membayangkan jika perkataannya itu menjadi kenyataan. Tidak lucu kan kalau tiba-tiba saat

bangun pagi ia melihat Hanbyul menodongkan moncong pistol ke wajahnya.

“Kalau dia seorang teroris aku mau kok jadi tawanannya. Kau saja yang aneh, tinggal satu

rumah dengan pria tampan seperti dia tapi tidak terjadi apa-apa.” Untuk kesekian kalinya

Serri hanya memutar bola matanya mendengar pernyataan Sooyoung tentang Hanbyul.

“Kau tahu, kau sama menyebalkannya dengan dia. Turunkan aku di sini saja.” Serri

menunjuk gerbang gedung apartementnya.

“Serri-ah sampaikan salamku pada Hanbyul-ssi.” Teriak Sooyoung saat Serri baru beberapa

langkah menjauh dari mobil. Serri hanya geleng-geleng kepala dan membalas lambaian

tangan sahabatnya.

Serri berjalan pelan memasuki elevator gedung apartementnya. Ia harus menunggu beberapa

saat karena apartementnya berada di lantai 20, bukan waktu yang lama tetapi mengingat

tubuhnya yang sudah sangat lelah ia merasa perjalanan itu sangat lama. Andai ia bisa

ber-apparate seperti yang dilakukan para penyihir di film Harry Potter, ia hanya tinggal

membayangkan kamar tidurnya yang nyaman dan voila…ia bisa langsung tertidur pulas di

atas tempat tidurnya.

TING!

Sesampainya di depan pintu ia menekan nomor password pintunya. Tampaknya Hanbyul juga

sudah pulang karena Serri melihat sepasang sepatu pria itu di rak. Yang mengherankannya

ialah sepasang stiletto berwarna abu-abu-yang ia yakin bukan miliknya-juga ada di rak

tersebut.

Apa pria itu membawa temannya lagi?

Serri mengingat saat Hanbyul membawa temannya. Kalau tidak salah namanya Kevin, Kevin

Wu. Si pria berwajah cantik yang sangat hyperactive menurut Serri. Pria itu tidak berhenti

mengoceh kalau Hanbyul sering sekali bercerita tentang Serri. Wanita itu baru akan bertanya

apa yang diceritakan Hanbyul tentangnya kalau saja Hanbyul tidak datang tiba-tiba dan

menarik Kevin untuk pergi. Coba saja Kevin datang lagi, Serri pasti akan menanyakan hal

tersebut.

Namun sepertinya kali ini bukan Kevin yang datang. Serri tidak melihat ada kemungkinan

Kevin mau datang dengan menggunakan stiletto berhak kira-kira 10 cm. Ia masuk tetapi tidak

mendapati seorang pun di ruang tamu dan ruang tengah. Ia menatap pintu kamar Hanbyul

yang tertutup dengan lampu yang menyala melalui ventilasi di atas pintu.

Serri mengurungkan niatnya untuk mengetuk kamar Hanbyul. Seperti kata Sooyoung,

mereka punya perjanjian untuk tidak mengganggu privasi satu sama lain. Jadi siapapun tamu

Hanbyul bukanlah urusan Serri. Meski dalam hati ia akan sangat kesal jika pria itu membawa

masuk wanita ke apartementnya dan melakukan hal yang tidak-tidak.

Klek.

Ia baru saja akan masuk ke kamarnya saat terdengar pintu lain terbuka. Hanbyul keluar dari

kamarnya dan tidak sendirian. Seorang wanita dengan rambut pirang dan sepasang mata-
yang tergolong sangat besar untuk mata orang Korea-kini ikut menatapnya. Dari ekspresinya,

sepertinya Hanbyul tidak tahu kepulangan Serri.

“Ah, kau sudah pulang rupanya.” Serri hanya mengangguk.

“Temanmu?”

“Ya, tepatnya rekan kerjaku. Kim Boa.”

Wanita itu berjalan mendekati Serri dan mengulurkan tangan seraya tersenyum. Serri

menyambut balik dan balas tersenyum.

“Senang bertemu denganmu Serri-ssi. Hanbyul sering bercerita tentangmu. Maaf kalau

kedatanganku mengganggumu.”

Apa sih yang Hanbyul ceritakan tentang dirinya? Sepertinya semua teman Hanbyul tahu

tentang Serri.

“Tidak. Tidak sama sekali. Aku juga senang bertemu denganmu Boa-ssi.”

“Aku akan mengantarnya ke bawah.” Kata Hanbyul yang kelihatan baru selesai memakai

jaket hitamnya.

“Oh, tentu.”

Boa sempat berpamitan sebelum menghilang di balik pintu apartement bersama Hanbyul.

Serri yang memang sudah sangat ingin beristirahat hanya melempar tasnya ke sembarang

arah dan membuka mantel lalu membanting badannya ke atas tempat tidur. Sepertinya ia

sudah tidak ada niatan untuk sekedar mencuci muka atau bahkan mandi air hangat.

Namun meski begitu setelah sekian menit kedua matanya masih tidak mau tertutup. Entah

karena memang ia belum benar-benar mengantuk atau ada sesuatu yang masih mengganggu

pikirannya.

Apa gadis itu kekasihnya?

Serri hanya mendesah panjang menyadari pertanyaan aneh tersebut. Ia meniup pelan poninya

dan menutup rapat matanya, berharap kalau ia bisa segera tidur.

Tok..tok..tok..

“Hanbyul?” gumamnya dengan kening mengerut. Dengan gerakan antusias ia bangun

dari tempat tidur dan berlari ke arah pintu. Ia menunggu beberapa saat sebelum membuka

pintunya, tidak mau terlihat kalau ia sangat ingin membuka pintu tersebut.

“Kau sudah tidur? Apa aku mengganggumu?”

“Ehm, tidak juga. Aku baru saja mau……..mandi.” Bohong.

“Oh, syukurlah aku tidak mengganggu. Aku cuma mau bilang kalau Boa memang hanya

rekan kerjaku, tidak lebih. Dia hanya memakai kamar mandi di kamarku karena kamar

mandi tamu sedang bermasalah. Jadi kuharap kau tidak salah paham.” Serri mendengar

narasi singkat pria di hadapannya dengan sedikit bingung. Cukup lama ia menjeda sampai

menemukan kata-kata yang tepat.

“Ah, begitu yah. Tapi kalau memang dia kekasihmu tidak apa-apa kok.” Bohong lagi.

“Wajahmu pucat. Kau sakit yah?” dan entah sejak kapan telapak tangan pria itu sudah ada di

dahi Serri. Jangan tanya bagaimana kagetnya ia sekarang.

“A..aku,”

“Badanmu panas, sebaiknya jangan mandi kalau sudah malam begini. Istirahatlah. Selamat

tidur.” Belum pulih kekagetan Serri, pria itu sudah pergi dari hadapannya. Ia memegang

kedua pipinya. Panas memang, tetapi sepertinya itu karena alasan yang lain.

“Kenapa tiba-tiba sikapnya berubah?”

***

Serri bangun keesokan harinya dengan susah payah. Seluruh badannya terasa kaku dan

kedua matanya sangat berat untuk terbuka. Perkataan Hanbyul terbukti kalau gadis itu

sekarang jatuh sakit. Tampaknya kebiasaan begadangnya selama beberapa hari terakhir mulai

berakibat. Ia mengingatkan diri untuk menghubungi Sooyoung, menginfokan sahabatnya itu

kalau hari ini ia tidak bisa ke butik.

Tenggorokan Serri yang kering memaksanya untuk bangun mencari segelas air. Ia keluar

kamar dan mendapati suasana sepi. Biasanya jam segini ia atau Hanbyul sudah duduk manis

di meja makan atau di depan televisi tapi pria itu juga tidak kelihatan. Setelah menenggak

segelas air hangat, ia ingin mengecek keberadaan Hanbyul dan mendapati pintu kamar teman

seapartementnya itu tidak tertutup rapat.

Semenjak Hanbyul menempati kamar itu, Serri tidak sekalipun masuk ke dalam. Jangankan

untuk masuk, Hanbyul seakan memasang alarm setiap kali Serri mendekat.

Ia mengetuk beberapa kali tapi nihil, tidak ada tanggapan. Ia semakin yakin kalau Hanbyul

sedang keluar, namun seingat Serri pria itu tidak pernah absen mengunci kamarnya. Rasa

penasaran mengusai gadis itu. Ia memegang gagang pintu sambil berjanji dalam hati kalau ia

hanya akan melihat kamar itu sebentar lalu keluar.

Serri tercengang saat mendapati kondisi kamar itu sudah berubah drastis dari apa yang dia

ingat. Dinding kamar itu sekarang dilapisi suatu bahan yang entah apa namanya, sepertinya

bahan itu kedap suara karena ia pernah melihat dinding sejenis di sebuah studio di acara

televisi. Bukan itu saja yang mengagetkannya karena Serri sekarang merasa seperti benar-
benar berada di sebuah studio musik. Mengapa tidak, kalau yang ia lihat ada dua atau tiga

macam gitar, sebuah bass, sebuah mini orgen, dan berbagai perlengkapan elektronik berbau

musik yang ia tidak tahu namanya.

Hanya sebuah ranjang yang membuat ruangan itu masih kelihatan seperti kamar tidur-yang

kini dipenuhi kertas partitur lagu-yang sepreinya juga sudah diganti.

Yang menjadi pertanyaan Serri, kapan Hanbyul menggunakan semua benda ini. Apa saat

ia sedang tidak berada di apartement? Karena ia betul-betul tidak pernah mendengar suara

berisik apapun dari kamar Hanbyul.

“Keluar.”

Refleks Serri menoleh ketika mendengar suara tersebut. Ia mendapati Hanbyul kini

memandangnya dengan ekspresi marah.

“Hanbyul-ssi aku ti-“

“Kubilang keluar!!”

Serri terlalu kaget untuk sekedar menggerakkan kakinya keluar dari ruangan itu. Tubuhnya

yang memang sudah kurang stabil karena sakit kini terasa gugup akibat kemarahan Hanbyul.

Melihat Serri yang masih belum menuruti perkataannya, Hanbyul menarik lengan gadis

otu dan membawanya keluar kamar. Serri masih tidak protes saat Hanbyul menghentakkan

tangannya.

“Jangan pernah masuk ke kamar itu tanpa seizinku.”

Dan tanpa mendengar apapun dari Serri, Hanbyul mengunci pintu kamarnya dari luar dan

berjalan keluar apartement.

Serri menatap pergelangan tangannya yang kini nampak sedikit memerah karena perlakuan

Hanbyul. Ia tidak tahu kenapa tiba-tiba air matanya sudah mengalir begitu saja.

“Kenapa di sini sakit sekali?” ia memegang dadanya dan terduduk di sofa. Pandangannya

yang kabur masih sempat menangkap sebuah bungkusan plastik di atas meja. Sebuah

bungkusan berisi obat.

***

Serri terbangun dan memperhatikan sekelilingnya. Ini bukan di ruang tengah tempatnya

terakhir tertidur, tetapi di kamarnya sendiri. Ia sama sekali tidak ingat sudah pindah ke kamar

ini. Ia menyandarkan diri ke sandaran ranjang sambil memegang kepalanya yang masih

sedikit pusing.

Klek.

Pintu kamarnya terbuka dan memperlihatkan objek yang cukup mengagetkannya. Hanbyul

kini berdiri di hadapannya sambil membawa nampan berisi mangkuk dan segelas air.

“Kau sudah bangun?”

Serri tidak menjawab. Ia lebih memilih memperhatikan gerak-gerik sosok di hadapannya

yang kini meletakkan nampan tersebut di meja kecil dekat tempat tidurnya. Sosok itu

sekarang sudah duduk di ranjang Serri, hanya berjarak beberapa puluh senti darinya.

“Bagaimana keadaanmu?”

Hanbyul kembali bertanya dan kembali tidak mendapat jawaban dari Serri. Pria itu sadar

kalau Serri membutuhkan penjelasan.

“Kau ketiduran di sofa jadi aku memindahkanmu di sini. Aku tahu kau belum menyentuh

makanan sejak pagi sedangkan ini sudah sore dan kau sedang sakit. Aku harap kau mau

memakan bubur buatanku. Dan…”

“Maafkan aku…”

“Eh?”

“Maafkan aku Hanbyul-ssi. Aku benar-benar tidak bermaksud lancang masuk ke kamarmu.

Aku hanya penasaran. Maafkan aku.”

Serri berhenti berbicara saat menyadari Hanbyul menggenggam tangannya.

“Tidak. Harusnya aku yang minta maaf. Tadi aku sangat kasar. Harusnya dari awal aku

menceritakan semuanya padamu.”

“Maksudmu?” tanya Serri yang nampak bingung dengan pertanyaan Hanbyul.

“Sebenarnya….”

Jadilah lima belas menit terakhir diisi oleh suara Hanbyul yang menceritakan sesuatu yang

sangat tidak diduga oleh Serri. Rahasia sebenarnya dari pria itu.

Serri sendiri tidak ingat sejak kapan mulutnya terbuka saking kagetnya mendengar

pengakuan Hanbyul.

Mungkin sejak Hanbyul mengatakan kalau dirinya pewaris salah satu jaringan hotel bintang

lima di Seoul, yang sebenarnya tidak terlalu mengagetkan mengingat digit dalam perjanjian

sewa mereka terdahulu.

Mungkin sejak Hanbyul mengatakan ia juga memiliki apartement di gedung yang sama

dengan milik Serri, hanya berada di lantai berbeda.

Mungkin sejak Hanyul mengatakan kalau hobi musiknya yang ditentang oleh sang ayah yang

memberinya ide gila untuk membuat studio musik sendiri di apartement Serri.

Atau mungkin sejak Hanbyul mengatakan ia tertarik pada Serri. Tertarik pada wanita yang

ditemuinya secara tidak sengaja di lift. Wanita yang saat itu hanya menggulung rambutnya

asal, sambil mengunyah roti dan memegang cup americano, yang nampak tidak peduli

dengan orang-orang sekitarnya. Oke, Serri sangat malu mengingat posenya saat itu.

“Apa maksudmu kau tertarik padaku?” pertanyaan yang sebenarnya membuat gadis itu gugup

setengah mati. Hanbyul hanya tertawa mendengar pertanyaan itu.

“Serri-ssi, kalau kubilang aku akan menciummu sekarang, bagaimana?”

Mata gadis itu membulat, tapi sejurus kemudian sebuah smirk nakal muncul di wajahnya.

Tanpa Hanbyul sangka kedua lengan gadis itu sudah melingkar di lehernya.

“Ini jawabanku.”

Bibir mereka bertemu.

***

Serri sedang berdiri di balkon saat ia merasakan sepasang tangan melingkari perutnya.

“Aku punya hadiah untukmu.”

“Benarkah?”

“Ehm, dengarkan…”

Dan yang berikutnya Serri dengar adalah alunan suara Hanbyul di sela angin yang bertiup

memenuhi udara Seoul malam itu.

baram ttara geu barameul ttaraon

igsughaet deoni naemsaega

gadeug chani georil georeotdeon

uri moseubi dashi saenggagina

oneul ttara chan barami bureowa

hamkke haetdeoni gyejeori

dashi nal chajawa ijeotdeon

nega saenggagna baram ttara

(With the Wind by Led Apple)

END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s